Powered By Blogger

Thursday, August 23, 2012

"Saya, bukan KORUPTOR !"

"Seandainya pun seorang manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang tukang sapu jalan, 
hendaknya ia menyapu jalan sesempurna michelangelo ketika melukis, 
seindah Beethoven  saat menciptakan musiknya,
dan seagung Shakespeare ketika melukiskan pusi-pusinya.
Ia harus menyapu jalan dengan begitu baiknya sehingga semua yang di langit dan di bumi ini ibaratnya terhenti untuk mengagumi dedikasi dan karyanya.
Di sana, ada seorang tukang sapu yang mengerjakan semua pekerjaannya dengan luar biasa."
(Martin Luther King).


Natalitas Koruptor.

Ketika berada di tengah keramaian, kerap kita merasa tidak senang karena alasan bising. Ketika dalam suasana sepi, kita mengeluh karena kesepian. Mereka yang kaya berlimpah harta, bingung dan gelisah karena kekayaannya. Sebaliknya yang miskin, selalu mengeluh karena kemiskinannya. yang memiliki jabatan tinggi selalu dibayangi kecemasan menghadapi saat berakhirnya kekuasaan yang digenggamnya. yang masih di bawahnya, penasaran ingin sekali merasakan dengan posisi di atasnya lagi. Dan ketika saat ajal tiba, sederet daftar keinginanya masih melekat di hati namun, jatah usia sudah habis.

Bukankah kita semua dilengkapi pikiran untuk merancang skema hidup yang lurus dan benar lalu hati dan emosi sebagai motor penggerak dan tangan (hand) untuk melaksanakan keputusan head dan dorongan heart ?. Problemanya, ketiga komponen utama tadi tidak selalu sinkron dalam menopang kehidupan ini. Komponen hati yang memiliki nafsu, keinginan, dan selalu mengejar kesenangan (pleasure) seringkali berjalan sendiri, tidak mau mendengarkan perintah dan peringatan nalar sehat.

Ramai-ramai merampok Negara.

Angka 4 dan 13 adalah angka sial, sehingga ada alasan manajemen bangunan bertingkat untuk tidak membubuhkannya pada dinding lift, inikah alasannya? atau mungkin ada pengeculian lain?.

"Mohon perhatian pertunjukan di teater 4 segera dimulai, para penonton yang masih berada di luar agar segera masuk karena pertunjukan akan segera dimulai" ; tentunya setelah beli karcis, itu sudah pasti!. Seruan ini tidak asing bagi pecinta film yang sering meluangkan waktunya untuk menonton di bioskop. Ada suatu kepuasan tersendiri ketika para penonton dapat menikmati pemutaran film-film yang mereka tunggu penayangannya. Himbawan yang sama juga sering dihadapkan kepada masyarakat luas, sebagai sumber terbesar pendapatan negara, sebagai sumber APBN dan APBD, adakah suatu kepuasan ketika kita telah membayar pajak kepada pemerintah dan kita dapat merasakan manfaat melalui berbagai fasilitas dan kemudahan atas pengelolaan dana yang baik dan benar dari dana tersebut?.  Ataukah kita hanya sebagai penonton yang dikecewakan ?

Seusai menggelar Sidang Kabinet di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (25/7/2012) Presiden SBY menyebut lima area rawan korupsi di Indonesia. Pertama, korupsi yang merugikan APBN dan APBD. Dalam dua tahun terakhir, masih terjadi kasus korupsi yang melibatkan unsur DPR dan DPRD dengan unsur pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Utamakan pencegahan. Manakala telah terjadi, lakukan penindakan yang tegas, siapa pun, dari parpol mana pun, dan apa pun jabatannya, Kedua, penggelembungan atau mark-up pengadaan barang dan jasa. Kepala Negara mengungkapkan, masih ada kongkalikong antara pejabat negara dan pengusaha, Ketiga, kasus yang berkaitan dengan perpajakan. Ketika negara lain mengalami krisis juga mengalami kesulitan perpajakan, kita sebagai negara yang tidak krisis justru harus meningkatkan pertumbuhan. Saya minta jajaran penegak hukum untuk menyoroti pembayaran pajak dan apa yang dikelola petugas pajak. Jangan sampai ada korupsi, Keempat, adalah kepabeanan dan cukai. Ada barang-barang asal Indonesia yang dikirim ke luar negeri tanpa melewati pintu yang benar. Ada pelaku usaha yang tidak memenuhi kewajibannya terkait kepabeanan dan cukai dan Kelima izin pertambangan serta minyak dan gas (Migas). Para institusi penegak hukum diminta melakukan penindakan tanpa harus berebut popularitas. Penanganan diminta dilakukan secara profesional, serius, dan tuntas. Terhadap lima area yang dinilai rawan korupsi, Kepala Negara meminta jajaran penegak hukum, termasuk Polri, Kejaksaan Agung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi, untuk mencari solusinya.


Wednesday, January 18, 2012

TUHAN, BERI KAMI PEMIMPIN SINTING


Jalan tol Jakarta. Tengah malam. Mobil saya kehabisan bensin. Ya, mogok. Dan saya sendirian. Bayangkanlah, betapa sialan! nyaris dari mulut saya meluncur caci maki. Namun, memaki siapa? Ya, memaki diri sendiri! lebih tepat, mengoreksi diri sendiri: "Salahnya, kenapa tidak siap? Periksa tangki bensin, sejak pagi?"

Setan dalam diri saya mulai mencari-cari kambing hitam pada orang lain. Nah, anak-anak dirumah jadi sasaran makian saya. "Kenapa nggak ingatkan Bapak? Periksa ini itu pada mobil? Termasuk bensin!" Uhh, sepinya jalan tol. Kiri-kanan penuh pohon. Angin malam pun ikut-ikut memperkental rasa sepi. Lebih tepat, "rasa ngeri"!

Saya merinding. Di tempat semacam inilah, menurut berita televisi dan koran, orang sering dirampok. Rasa negeri saya meninggi! Namun, segera saya tafakkur. "Alhamdulillah : engkau Tuhan, memberi saya kemampuan untuk berserah diri." sambil berserah diri, saya pun menegaskan : "Ini salah saya. kenapa orang lain yang harus kena getahnya?" Tahu-tahu, datanglah mobil derek. Ibarat ikan yang kehabisan air, datanglah bantuan. Ini tangan Tuhan. Setelah persetujuan, berapa saya bayar, mobil derek pun menarik mobil saya, cari pompa bensin.

Sopir mobil derek orang Batak. Pembantunya, Jawa. Sepanjang perjalanan keduanya asyik merokok dan berbicara politik. "Sialan!", kata Si Batak. "Kenapa pula yang jadi Presiden kita, perempuan? Perempuan itu kalau lagi ditindas, wajahnya bikin sedih. Aku pun sedihlah. Kutusuklah tanda gambar PDI-P. Supaya aku yang kurang makan ini, dipimpin oleh Presiden sedih. Artinya yang memilih dan yang dipilih, sama-sama orang tertindas!"

"Salah kamu sendiri," sahut pembantunya yang Jawa itu. "Ibu Mega itu, wajahnya memang memelas. Tapi sebagai orang politik, Mbak itu di sarang banteng bermata merah. Jadi jangan heran, jika si banteng lepas, berkuasa, tabrak sana tabrak sini."

Dan si Batak sambil tertawa-tawa keras meneriakkan gundah hatinya ke sepi malam, "Betul juga kamu! Aku ini cuma dapat tabrakan banteng, hooi, hua-ha-ha!" setelah itu Ia diam sebentar. Lalu kepada temannya ia bertanya, "Dan kamu sendiri? PPP? Hijau! Hijau!Hijauuu!

Dengan tenang si jawa (dengan gaya memelas), menjawab, "ya, begitulah. Sebenarnya tak tega saya bilang, yang namanya Hamzah Haz itu sungguh-sungguh andalan saya. Bukan PPP-nya. Eh, berdarah-darah kita orang kecil ini dengan tarif bensin, solar, listrik, dan terutama bahan-bahan pokok, tahu-tahu ia pergi haji.Tak tanggung-tanggung, rombongannya lebih seratus!"

"hmmmm, Mbak Mega nggak ke luar negeri seperti biasanya. Artinya ia tetap di tanah air. seakan bersama rakyat, berembuk, bagaimana sebaiknya tarif ini. tapi percuma saja. rakyat tak dianggap! Betul kamu, wajah lembutnya, berganti wajah banteng. Menyerunduk teruuus!", kata-kata panjang ini nyerocos dari mulut si Batak.

Saat itulah, saya menimpali, "lalu di Pemilu 2004, kalian pilih Presiden yang modelnya bagaimana?" Segera saja si Batak berseru-seru, tertawa-tawa, "Yang sinting, Bang, yang sinting! Pilih Presiden Sinting! Sintiiing!" Berteriak-teriak dia, lalu tiba-tiba diam. Ia pinggirkan mobilnya, berhenti. Ia menoleh kepada saya, mengurangi power suaranya. Dan dengan serius berucap, "Ya, Bang. Yang sinting, tapi, tapi apa ya? Ya, katakanlah, jujuuur. Gitu! Kayak Ali Sadikin! Banyak bicara, banyak kerja! Perbuatan ada di kata, kata ada di perbuatan!"

Lalu sunyi. Mobil derek pelan-pelan meluncur. mungkin kesunyian itu mewakili hati si Batak dan si Jawa, yang penuh harap-cemas, tentang masa depan bersama keluarga.

Tiba di pompa bensin, si Batak mendekati saya diiringi temannya. "Tentang sinting tadi, Bang! Maksud saya, ya, sintingnya pemimpin yang memihak rakyat! Gitu!" Yang Jawa, mengangguk-angguk. Saya tahu, mereka menagih bayaran. Saya keluarkan uang Rp 120.000,- sesuai perjanjian. Tetapi saya menjadi pucat merogoh-rogoh kantung. Uang saya pas untuk bayar mobil derek, tapi untuk bensin? Uang saya habis!

"Bung, rumah saya sudah dekat. saya butuh bensin sedikit saja, cukup untuk rumah. Tapi mengurangi tarif yang saya harus bayar kepada anda. Bisa ikut saya kerumah? Nanti di situ saya bayar kurangnya?" kata saya setengah memohon.

Kedua orang itu saling memandang. Si Jawa mengambil uang dari tangan saya. Lalu Rp. 10.000,- diserahkan kepada saya untuk bensin. Dan si Batak berkata: "Bang, kami berdua ini orang susah. Jadi hanya orang susah yang tahu kesusahan orang lain." keduanya naik mobil derek dan segera menghilang.

Kedua orang (rakyat kecil)itu berlalu. Pergi membenahi nasibnya. Tetapi wajah-wajah tulus (namun urakan) itu tak bisa hilang di ingatan batin saya. Itulah rakyat kecil yang kekuatannya terletak pada ketulusan; berkorban untuk orang lain!

Jika sang pemimpin memang representasi dari nurani rakyat, bacalah, lalu pinjamlah kejujuran dan ketulusannya. Serta kesiapannya untuk berkorban! Di sini, pamrih tergusur!

Saya terjemahkan "sinting" yang dimaksud si batak dan si jawa, dengan "Kepolosan untuk menerima risiko'! Kepolosan untuk berani melangkah di tengah penilaian orang-orang "vested" yang merasa terancam piring nasinya oleh kesintingan kreatif dan imajinatif! Kepolosan untuk menerobos status quo dan kemapanan! Kepolosan untuk berani menerima pujian! Kepolosan untuk berani menerima mundur, sebagai tanda, kekuasaan bukan segala-galanya!

Diramu menjadi satu "konsep diri", inilah yang disebut pemimpin yang memiliki "integritas paripurna" Tentu ada dimensi lain selain integritas teruji yang menjadi syarat seorang pemimpin! Dimensi lain itu: "kompetensi yang diakui dan komitmen yang terpercaya!"

Tiga dimensi dari syarat seorang pemimpin ini, saya kutip adri seorang calon Presiden masa datang (2004) yang tak perlu saya sebutkan namanya. Riwayat ketokohan dari tokoh ini, memang melekat dimensi-dimensi syarat kepemimpinan itu, ia akan muncul ke permukaan di 2004!

Tulisan ini saya akhiri dengan menyampaikan "tabik" kepada dua orang pengendara mobil derek, yang dalam kesusahannya, tulus membebaskan saya dari kesusahan. Pemimpin belajarlah dari rakyat kecil.


Rahman Arge
Pedoman Rakyat, 2 Maret 2003